Minggu, 27 Juni 2010

Analisa Produk mie sedap dengan indomie

Mie sedap vs indomie
ADU STRATEGI MEREBUT PASAR MI INSTAN
PASAR mi instan di Indonesia memang menggiurkan. Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap mi cepat saji ini cukup besar. Tidak heran jika dari waktu ke waktu banyak perusahaan baru melirik pasar mi instan.
Meski demikian, hingga saat ini Indomie yang diproduksi PT Indofood Sukses Makmur Tbk masih menguasai pasar. Dominasinya begitu kuat walaupun sudah terjadi pergeseran. Jika 2002 Indomie menguasai sekitar 90% pangsa pasar mi instan, tahun lalu menurun menjadi 75%. Sisanya yang 25% dikeroyok merek mi instan lainnya.
Kemunduran itu patut diwaspadai. Apalagi baru-baru ini muncul Mie Sedap milik PT Sayap Mas Utama yang merupakan grup dari kelompok Wings. Meski produk ini baru diluncurkan pada Mei 2003 dan baru didistribusikan di Pulau Jawa dan Bali, namun namanya sudah mulai diperbincangkan di kalangan pembeli di warung-warung, bahkan pasarh swalayan.

Pakar pemasaran Rhenald Kasali mengatakan, manajemen Indomie harus meningkatkan kewaspadaan karena Mie Sedap melakukan promosi sangat agresif. ‘’Gebrakannya luar biasa, harganya pun di bawah Indomie, ditambah keunggulan-keunggulan lain. Saya rasa persaingan pasar mi instan akan semakin ketat,'’ katanya ketika dihubungi Media di Jakarta, baru-baru ini.
Ketatnya persaingan produk mi instan disadari benar oleh manajemen PT Indofood. Sumber yang tidak mau disebut namanya mengakui bahwa saat ini penguasaan Indofood terhadap pasar mi instan menurun dari 90% menjadi 75%. ‘’Tapi kami tidak diam saja. Saat ini sedang disusun strategi baru,'’ katanya.
Dalam siaran persnya, Dirut & CEO Indofood Eva Riyanti Hutapea mengatakan, meski terjadi penurunan penguasaan pasar, namun divisi mi instan tetap dapat meraih kenaikan penjualan sebesar 6,6% menjadi Rp4,5 triliun dibanding Rp4,2 triliun pada periode yang sama 2002. Kenaikan itu antara lain dipengaruhi lebih tingginya harga jual rata-rata. Selain itu, hingga saat ini divisi mi instan tetap dapat mempertahankan volume penjualannya sebesar 7,3 miliar bungkus.
Tentang strategi menghadapi persaingan, Indofood akan menerapkan strategi Mastering The Present, Pre-empting the Future. Strategi ini antara lain fokus kepada organic growth, memanfaatkan competitive advantage melalui scale, scope, span, dan speed. Selain itu akan menjalankan program cost efficiency and cost cutting. Di samping itu tetap melanjutkan segmentasi para konsumennya dengan memperkenalkan produk-produk dengan higher price and higher margin.
Optimistis
Berbicara tentang pangsa pasar mi instan, Manager Promosi PT Sayap Mas Utama Rudy Bonardy mengakui bahwa dominasi Indofood masih sangat kuat. Meski demikian, Rudy optimistis pdoduk Mie Sedap bisa mengambil bagian. ‘’Di Indonesia bisnis mi instan sangat menjanjikan. Mie Sedap diluncurkan Mei 2003 dan baru mengeluarkan empat varian. Untuk sementara distribusi kami baru di Pulau Jawa dan Bali,'’ katanya.
Seberapa besar Mie Sedap bisa mengambil pangsa pasar yang tersedia, Rudy belum bisa menjawab. ‘’Kami masih pemula. Sedangkan Indofood adalah pemain lama yang saat ini menguasai 75% pangsa pasar mi instan. Sisanya 25% dikeroyok merek-merek lain. Tapi saya optimistis, Mie Sedap bisa meraih konsumen melalui strategi pemasaran dan promosi yang gencar.'’
Strategi awal Mie Sedap, menurut Rudy, antara lain bermain di harga pasaran yang sangat ekonomis namun bumbu mi yang diberikan kelas premium. Diberlakukan pula strategi klasik dengan memberi hadiah berupa piring dan gelas. Hal utama lain yang tidak boleh diabaikan adalah distribusi. Meski masih berkutat di Jawa dan Bali, namun pendistribusian produk diusahakan merata dari tingkat grosir sampai tim motor yang menjelajahi warung-warung kecil.
Strategi itu didukung iklan yang cukup gencar, baik tematik, iklan produk, maupun versi testimoni. Menurut Rudy, ada satu hal yang belum pernah dilakukan oleh kompetitor. Misalnya, menyuruh orang sebanyak-banyaknya mencoba Mie Sedap yang dilakukan di mal, tempat wisata, kampus secara gratis. ‘’Dengan cara itu, kami bisa memperoleh umpan balik langsung berupa kritik, saran, dan pujian,'’ paparnya.
Lebih jauh Rudy mengatakan, dana yang dikeluarkan perusahaan untuk promosi Mie Sedap cukup besar. ‘’Saya enggan menyebutkan jumlah. Tapi yang jelas cukup besarlah. Masyarakat dapat menilai sendiri berapa dana yang dikeluarkan untuk iklan di delapan stasiun televisi, billboard di halte-halte sepanjang Jawa-Bali, belum lagi kegiatan below the line,'’ tuturnya.
Ditanya tentang permintaan pasar terhadap Mie Sedap, Rudy mengatakan sangat bagus. Bahkan saat ini produksinya belum bisa memenuhi permintaan pasar. ‘’Masih banyak barang kosong di toko ataupun variannya tidak lengkap. Padahal, reaksi pasar di luar dugaan. Perusahaan akan terus berusaha memenuhi permintaan pasar dengan menambah kapasitas produksi dan distribusi lebih merata lagi,'’ tandasnya.
Masih ada peluang
Diwawancara terpisah, Budianto, Presiden Direktur Sentrafood yang memproduksi mi instan bermerek Salami, mengatakan meski persaingan ketat, namun tetap ada peluang bagi pemain baru yang ingin menggarap pasar mi instan.
Salami sendiri, menurut Budianto, terus melakukan inovasi. Baru-baru ini diluncurkan Salami rasa mi Jawa. ‘’Peluncuran itu sudah melalui riset mendalam. Jadi tidak asal-asalan. Kami akan terus mengeluarkan produk-produk baru yang belum pernah ada,'’ kata Budianto. Dia menambahkan, kini produknya mengambil pasar mi instan kurang dari 10%. (Sdk/M-3)

WASPADAI KEDATANGAN PENDATANG BARU
MUNCULNYA pendatang baru produsen mie instan PT Sayap Mas Utama dengan produknya Mi Sedap cukup mengejutkan. Beberapa pakar pemasaran mengingatkan agar PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang selama ini menjadi pemimpin pasar mi instan lebih waspada.
Pakar pemasaran Rhenald Kasali mengatakan, sebagai pendatang baru Mi Sedap hadir dalam promosi agresif. Produk yang masuk kelompok Wings ini agaknya serius merambah pasar mi instan. ‘’Perusahaan ini langsung menggebrak pasar melalui promosi yang luar biasa. Harga produknya pun di bawah harga produk Indofood, masih ditambah lagi dengan berbagai keunggulan lainnya. Karena itu perlu diwaspadai,'’ katanya ketika diwawancarai Media.
Meski tidak seagresif Mi Sedap, ada beberapa produk mi instan yang juga patut diperhatikan. Perusahaan-perusahaan itu, masuk ke bisnis mi dengan cara menggaet orang-orang eks Indofood. Mereka masuk dengan cara mengincar segmen khusus. Salami misalnya, menggunakan segmen religius. Unilever membidik pasar remaja menengah atas. Sedangkan segmen pasar Mi Sedap adalah menengah ke bawah.
‘’Itu target awal Mi Sedap, untuk konsumsi sopir dan pembantu rumah tangga. Tetapi karena rasa minya enak, mereka kemudian merekomendasikan ke majikan. Itulah yang kini terjadi. Secara berlahan Mi Sedap mulai menggerogoti pangsa pasar mi produk Indofood. Bila sebelumnya Indofood menguasai sekitar 90%, kini tinggal sekitar 75% saja. Penurunan ini memang belum signifikan, tetapi pihak Indofood harus tetap waspada,'’ kata Rhenald.
Sebenarnya, lanjut Rhenald, Indofood sangat diuntungkan oleh jaringan distribusi yang kuat. Selain itu, jaringan bisnisnya yang mencakup hulu hingga hilir juga sangat mendukung. ‘’Perusahaan ini tidak perlu pusing memikirkan bahan baku. Tepung terigu dipasok grupnya PT Bogasari. Distribusinya pun ada Indomarco yang mencapai seluruh pelosok Tanah Air. Jaringan yang kuat itu tampaknya menjadi kekuatan utama. Sulit rasanya bagi pendatang baru menandinginya. Mi Sedap dengan Wings Grupsnya baru mampu mendistribusinya ke wilayah Jawa dan Bali saja. Mie & Mi produksi Unilever kian lama terlihat kian tenggelam.'’
Masih soal distribusi, dalam pengamatan Rhenald Mi Sedap kadang-kadang belum mampu memenuhi permintaan pasar. Bahkan di Jakarta masih sering mengalami keterbatasan. Namun, kelemahan itu juga bisa berbalik menjadi keberuntungan. ‘’Muncul isu di kalangan konsumen stok Mi Sedap tinggal sedikit. Akibatnya konsumen berebut membeli Mi Sedap sebanyak-banyaknya. Apalagi sebagai pendatang baru harganya jauh lebih murah, dan rasanya pun tidak kalah enak.'’
Untuk mengantisipasi persaingan, Rhenald menyarankan agar Indofood terus melakukan diversifikasi pada produk makanan lain. Sedangkan strategi yang harus ditempuh adalah strategi pertahanan, namun tetap terus mengisi pasar. ‘’Sebaiknya berkonsentrasi pada produk berkualitas tinggi. Sebab, Mi Sedap akan tetap bermain di harga murah. Jadikan Mie Sedap sebagai alat untuk memperbesar kue, bukan sebagai pesaing produk. Masing-masing produk mempunyai keunikan tersendiri,'’ kata Rhenald.
Diwawancarai terpisah, pengamat pemasaran Hendy M Fakhruddin mengatakan, sebagai produsen mi instan Indofood nyaris melenggang sendirian tanpa pesaing. Kemunculan berbagai merek lain belum mampu menggoyahkan kedudukan Indofood sebagai produsen terbesar. Meski dalam waktu dekat dominasi tetap dipegang Indofoof, namun Hendy melihat persaingan bisnis di produk ini akan semakin ketat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar